Kemenangan Mutlak Golongan Karya (GOLKAR) Pada Pemilu 1971

Sebagaimana yang di saya sampaikan pada beberapa postingan sebelumnya, bahwa Pemilihan Umum atau Pemilu merupakan wujud dari menegakan kedaulatan rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri. Di Indonesia sendiri Pemilu di mulai pada tahun 1955 yang merupakan satu-satunya Pemilu yang dilaksanakan di era Orde Lama.


Pasca tragedi tsunami politik atas pemberontakan Gerakan 30 September pada tahun 1965 merupakan awal mula berkuasanya Orde Baru dan runtuhnya Orde Lama di bawah rezim Ir. Soekarno. Pada tahun 1966 salah satu amanat yang diberlakukan oleh MPR adalah menyelenggarakan Pemilihan Umum. Akan tetapi, hal tersebut dapat terealisasi setelah rezim Soeharto berkuasa tepat 5 (lima) tahun.

Penyelenggaraan Pemilu dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 1971 di seluruh provinsi di Indonesia. Kehadiran Golongan Karya (GOLKAR) dan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) menjadi pendatang baru dalam Pemilu kali ini, setelah beberapa partai politik seperti Partai Masyumi, Partaia Sosialis Indonesia (PSI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) berhasil dibubarkan sebelum rezim Soeharto berdiri.

Total peserta Pemilu pada tahun 1971 tergolong sedikit daripada Pamilu sebelumnya pada tahun 1955 yaitu hanya di ikuti oleh 10 Partai Politik, dan itu pun Golongan Karya tidak mengatasnamakan dirinya Partai Politik padahal, pada praktiknya organisasi ini jelas-jelas partai politik. Adapun ke sepeluh peserta Pemilu tersebut diantaranya adalah,

  1. Partai Katolik
  2. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
  3. Partaii Nahdhatul Ulama
  4. Partai Muslimin Indonesia (Parmusi)
  5. Golongan Karya
  6. Partai Kristen Indonesia (Parkindo)
  7. Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba)
  8. Partai Nasional Indonesia (PNI)
  9. Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI)
  10. Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)

Meskipun Pemilu dapat di selenggarakan pada tahun 1971 bukanlah untuk memilihan Presiden melainkan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat Provinsi dan tingkat Kabupaten. Presiden sendiri di pilih oleh MPR, sehingga politik Soeharto untuk memenangkan Golkar pada saat itu merupakan bagian dari strateginya.

Harusnya tahun-tahun setelah tragedi Gerakan 30 September 1965, Indonesia dapat berbenah diri, terutama dalam hal demokrasi. Sejarawan Anhar Gonggong sebagaimana yang pernah dilansir kompas.com mengatakan "Sayangnya, Pemilu direkayasa dengan cara-cara justru antidemokrasi. Berbagai aturan dan tata cara dimanipulasi untuk memenangkan Golkar sebagai mesin politik rezim orde baru. Inilah pseudo democracy atau demokrasi semu yang mengelabui rakyat."

Demokrasi semu. Begitu kira-kira sejarawan Anhar mencap pada pemilu yang berlangsung pada 5 Juli 1971 tersebut. Dan masih di sumber yang sama, pada pelaksanaan Pemilu banyak di dalangi oleh Pemerintah khususnya Departemen Dalam Negeri dengan melibatkan ABRI, Pegawai Negeri hingga PGRI di lembaga penyelenggara.

Pada pelaksanaannya di jaga dengan ketat oleh ABRI dan banyak terjadi aksi "serangan fajar" kepada pemilih. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memenangkan Golkar, dan hasilnya tentu saja Golkar menang mutlak pada Pemilu 1971.

Berikut ini adalah tabel perolehan suara pada Pemilu tahun 1971.


sumber : id.wikipedia.org

Demikianlah, pembahasan mengenai Pemilu tahun 1971 peristiwa bersejarah ini merupakan bagian dari kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia. Oleh karenanya, memahami sejarah Pemilu dari masa ke masa merupakan bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak dapat terpisahkan.

Posting Komentar

0 Komentar