Hakikat Pendidikan Menurut Konsep Menolong

Pada permulaan pembahasan mengenai hakikat pendidikan, kita mengetahui bahwa pendidikan adalah upaya membantu manusia menjadi manusia. Dengan mengambil dua kalimat penting dalam pernyataan tersebut adalah kalimat "membantu atau menolong" dan kalimat "manusia". Oleh karenanya, kita dapat memahami sebuah hakikat pendidikan menurut dua konsep yaitu menurut konsep menolong dan menurut konsep manusia.

Sementara pada postingan sebelumnya telah disampaikan mengenai hakikat pendidikan menurut konsep manusia, dan kali ini kita akan jelaskan bagaimana hakikat pendidikan menurut konsep menolong. Pada konsep manusia di condongkan kepada peserta didik itu sendiri sebagai objek dari pada pendidikan dengan mensyaratkan bahwa ada 3 hal yang mendasar bahwa manusia dapat dikatakan sebagai manusia yaitu mampu mengendalikan emosinya, cinta terhadap tanah airnya, dan memiliki pengetahuan. Sementara pada konsep menolong melekatkan hakikat pendidikan kepada pendidik itu sendiri.


Pertanyaannya, kenapa harus menolong bukankah beberapa lembaga pendidikan senantiasa memiliki visi atau misi dengan kalimat mencetak atau mewujudkan? Hal ini dilihat dari sisi manusianya itu sendiri yang memiliki potensi untuk menjadi manusia. Potensi-potensi inilah yang harus dilihat oleh seorang pendidik agar dia dapat mengarahkan peserta didik untuk menjadi apa kelak di masa depannya. Pendidik mengatahui bahwa setiap peserta didik memiliki potensi untuk menjadi manusia, bahkan bisa juga menjadi bukan manusia.

Apa yang dimaksud dengan bukan menjadi manusia diantaranya adalah lulusan sekolah tinggi yang hanya ingin menang sendiri tanpa menerima kebenaran yang datangnya dari luar. Begitu pula orang kaya yang masih saja tetap korupsi sehingga merugikan negara dan rakyatnya. Akan tetapi bukan berarti miskin adalah sebuah pembenaran untuk melakukan korupsi juga.

Pendidik tahu bahwa yang dapat ditolong untuk menjadi manusia adalah manusia, sementara benda-benda lain seperti batu misalnya, tidak dapat menjadi manusia. Oleh karenanya, kemampuan pendidik dalam mendidik harus tahu tentang potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya. Tentu saja, pendidik harus memiliki kemampuan membaca psikologis anak.

Kata "menolong" menegaskan bahwa mendidik merupakan tugas sekadar menolong. Dalam hal ini, pendidik mengetahui bahwa setiap peserta didiknya tidak akan sepenuhnya berhasil menjadi manusia. Artinya ada kemungkinan, pendidik gagal dalam menolong peserta didiknya. Lantas siapa yang harus disalahkan? Perasaan bersalah dari seorang pendidik tentu ada, akan tetapi sebenarnya pendidik tidak bersalah.

Menolong juga mengkiaskan agar pendidik tidak bersikap sombong. Keberhasilan yang  diperoleh peserta didiknya bukan semata-mata atas pertolongannya saja, akan tetapi lebih dari itu keberhasilannya merupakan usaha dan pengaruh dari lainnya. Menolong juga menerangkan bahwa pendidik dalam mendidik haruslah atas dasar kasih sayang. Apalah jadinya, jika menolong tanpa didasari kasih sayang. Secara logis, pendidik tidak akan berhasil apabila "menolong" tanpa adanya rasa kasih sayang.

Selain itu kata "menolong" juga mengandung pengertian selalu ke arah yang benar. Sehingga, pertolongan yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didiknya haruslah berisi sesuatu yang benar. Tidak mungkin pendidik menolong peserta didik untuk menjadi seorang pendusta atau seorang yang korup.

Dari pemaparan tersebut, kita simpulkan bahwa mendidik adalah pekerjaan yang tidak mudah. Membantu manusia menjadi manusia merupakan tujuan pendidikan yang harus dicapai oleh setiap pendidik.

Posting Komentar

0 Komentar